Masih membekas jelas pada dasar naluri
Tawamu, senyummu, bahkan tangismu yang dulu
Fasih sekali memori otakku memutar bait demi bait suara khas itu
Aku tersenyum, aku menangis, karenamu

Jalan pulang dari hatimu nyatanya tidak sesederhana bayangku
Amat sulit, bahkan rumit
Kau masih terlalu rekat dalam syair mimpiku
Bahkan tak ingin lepas
Tak ingin lekas untuk terhapus apalagi pudar

Satu langkah kakiku, berbanding terbalik dengan diamku
Saat melupakanmu...
Tak ingin lepaskanmu, tapi aku harus meninggalkanmu
Meninggalkan beribu realita yang kau hadirkan lewat kesederhanaanmu
Namun dangkal, tak mampu ku jangkau

Tapi pecundanglah aku jika harus berbalik menatapmu
dan kembali merengkuh bayangmu
Kembali mundur menuju masa depan yang bukan untukku
Rancu nampaknya jika ku ingin kembali menata puing-puing mimpi indah itu
Bersamamu ..

Karena aku menginginkanmu
Namun kau menginginkan bahagiamu, dan itu bukan aku
Alasan pasti yang mutlak ku pahami
Aku pergi, dan lari ..

Meninggalkanmu, mimpi indahku ..