Ku sebut saja namanya Arbie. Seseorang yang hampir 6 bulan lebih ini telah mengusik nyenyaknya tidurku. Seseorang yang kadang membuatku "galau" seketika. Seseorang yang tiba-tiba datang kemudian menulis coretan abstrak namun terlalu indah di hatiku.

Kami merupakan anggota dari club pecinta alam yang ada di sekolah. Aku mengenalnya hampir 2 tahun, ya sejak awal kami masuk sekolah. Tapi rasa istimewa itu baru aku rasakan setelah mengalami sebuah kejadian tak terlupakan dalam deret pengalaman berharga di hidupku.

Kurang lebih 6 bulan yang lalu, tepat pada akhir november tahun 2011. Kebetulan club kami mendapat kesempatan untuk melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Gunung tertinggi dari deretan pegunungan di Pulau Jawa.
Gunung yang menyimpan banyak keindahan alam yang tersembunyi, dan sekaligus menyimpan banyak misteri yang seketika bisa membuat bulu-bulu di leher tegak berdiri.



Aku masih hafal betul, rute yang ku lewati bersama rekan rekan satu rombongan selama pendakian itu. Banyak hal baru yang amat menegangkan yang aku alami. Salah satunya adalah ketika aku dan rombonganku tiba di arcopoda. Entah suatu kebetulan atau memang ini yang harus aku alami. Aku kehilangan rombonganku, aku dan Arbie tepatnya. Kepanikan menyeruak tiba-tiba saat kami menyadari bahwa kami tersesat dan kehilangan jejak rekan kami yang lainnya. Lututku benar-benar lemas saat itu, bukan hanya karena lelah dalam pendakian, namun lebih dari itu rasa takut dan panik yang bercampur jadi satu yang menjadikan tubuhku serasa tak kuat menopang beban bawaan yang ku bawa. Aku tersungkur, menangis. Perasaan buruk sudah memenuhi fikiranku. Tapi di sisi lain, Arbie mencoba untuk menenangkanku ..

6 jam lebih kami mencoba mencari yang lain, namun rasanya kami hanya berputar-putar pada satu tempat itu saja. Mitos Semeru kembali membuyarkan fikiranku dan membuat hatiku kembali tak tenang. Namun Arbie masih selalu memberikan suntikan semangat kepadaku, ia masih setia menyuruhku untuk selalu positif thinking dan tak lupa untuk selalu berdoa.
Saat itu tepat pukul 1 pagi, aku terlalu lelah jika harus terus berputa- putar tak menentu mencari sesuatu yang memang tidak pasti. Dan akhirnya, aku dan Arbie memutuskan untuk beristirahat dan membuat sebuah api unggun ..

Malam itu amat dingin, temperatur 5 derajat kurang lebih. Malam yang sebelumnya tak pernah aku alami, di kaki gunung di dalam hutan belantara. Tersesat, dengan mata sembab habis menangis. Benar-benar sebuah pengalaman aneh dan menegangkan, bersama Arbie.
Hatiku nakal saat itu, di dalam keadaan yang sepantasnya tak kurasakan "rasa" itu, namun tiba-tiba ia datang memenuhi rongga-rongga hatiku. Dan Arbie sebab dari semuanya. Ya, aku jatuh cinta pada Arbie di kaki Gunung Semeru.

Bukan tanpa alasan, bukan karena saat itu aku memang berduaan dengan Arbie, namun di sela-sela perbincanganku selama tersesat bersamanya, aku menemukan sebuah jiwa yang sederhana namun mempunyai mimpi dan cita cita yang luar biasa. Ia berbeda, ia tak pernah ku lihat pada sosok laki-laki lain yang aku kenal. Sedikit banyaknya, ia mencuri perhatianku lewat kesahajaannya.
Sosok yang benar-benar membuatku malu jika berkaca terhadapnya. Sosok yang sebetulnya sulit untuk terdefinisikan namun keistimewaan dan kedewasaannya begitu mudah untuk dideskripsikan. Arbie Rahman Putra.

Jam 4 pagi tepatnya, mataku sudah terasa amat berat pertanda kantuk mulai menghinggapi. Namun tak disangka, rombongan menemukanku dan Arbie yang saat itu masih asyik mengobrol berdua. Lega dan haru tiba-tiba kurasakan, nyatanya dugaan burukku sama sekali tak terbukti, ternyata aku masih tetap bisa keluar dari hutan belantara Semeru ini. Dan tau kah, aku melihat sosok Arbie yang dalam posisi sujud pertanda rasa syukur yang ia haturkan kepada sang Maha Kuasa. Lagi lagi, Arbie membuat hatiku merasakan perasaan yang amat beda.

Butuh waktu kurang lebih 2 jam untuk menuruni kaki gunung Semeru agar tiba kedaratan. Lelah yang amat kurasakan, namun akhirnya rombongan kamipun tiba di perkampungan Semeru.
Kami selamat, kami pulang dengan satu pengalaman baru, dan satu rasa baru (untukku)


--cerpen ketiga--
Neng Dini Nurmalis