Langit hitam pekat, mungkin lebih pekat dari malam biasanya. Kerlip bintang seakan memudar, tenggelam dimakan buasnya langit malam. Sunyi, dingin, menggigil. Menusuk lapisan tipis kulit, menyelinap masuk, merusak pertahanan tubuh. Anak iblis tampak risau, jangankan untuk tertidur lelap, mengatur tempo nafasnyapun ia kesusahan. Dadanya kadang sesak, semrautan. Memperdulikan perasaannya kah? atau kembali mengikuti kewajibannya, menistakan manusia dengan segala macam alibi kotor yang terkesan indah bagi para pendusta. "izinkan aku sembunyi dari rutinitas nista ini" gumaman itu bercokol dihatinya.
"lagi-lagi disini kau? tak takut dibunuh ibu bapakmu?" kehadiran malaikat memecah kesunyian.
"biarkan aku beristirahat lah, sebentar saja"
"awan gelap ini tak cukup kokoh untuk melindungimu"
"lantas aku harus apa? kembali menyenangkan manusia-manusia tolol itu?"
"bukankah itu memang tugasmu?"
"iya, tugas menjijikan yang menjadikanku makhluk terendah seperti ini"
"salahkanlah moyangmu" malaikat tertawa geli mendengar setiap keluhan yang di lontarkan anak iblis tentang hidupnya.
"sudahlah, berhenti meledekku"
"lagi-lagi disini kau? tak takut dibunuh ibu bapakmu?" kehadiran malaikat memecah kesunyian.
"biarkan aku beristirahat lah, sebentar saja"
"awan gelap ini tak cukup kokoh untuk melindungimu"
"lantas aku harus apa? kembali menyenangkan manusia-manusia tolol itu?"
"bukankah itu memang tugasmu?"
"iya, tugas menjijikan yang menjadikanku makhluk terendah seperti ini"
"salahkanlah moyangmu" malaikat tertawa geli mendengar setiap keluhan yang di lontarkan anak iblis tentang hidupnya.
"sudahlah, berhenti meledekku"
"aku tak meledekmu" malaikat kembali tertawa geli, dan akhirnya membuat anak iblis sedikit geram terhadapnya.
"aku ingin beristirahat, tinggalkan aku sendiri"
"tak usah marah seperti itu lah"
"aku tak marah, aku hanya benci dengan takdir seperti ini"
"sudah sudah, tak usah menyesali takdirmu, Tuhan kita yang lebih tau mana yang baik untuk makhluknya"
"tapi lihatlah aku malaikat! kotor, dan ditakdirkan untuk dimurkai oleh semua makhluk Tuhan"
"lantas kau mau apa?"
"entahlah"
Anak iblis tertunduk lemas. Ia begitu membenci dirinya sendiri. Ia amat menyesalkan takdir "bangsa"nya, yang dikutuk Tuhan untuk menjadi makhluk pendusta dan hina. Makhluk kekal penghuni neraka. Padahal pada sejujurnya, anak iblis menginginkan takdir lebih baik dibandingkan semua yang ia rasakan sekarang..
"sudahlah, semua tak akan mengubah keadaanmu. aku pamit, aku hendak naik ke langit"
"tunggu" anak iblis menghadang kepergian malaikat.
"apa lagi? aku malas jika harus mendengar keluhanmu"
"boleh ku titip sesuatu untuk temanmu?"
"hhm.. untuk apa? kurasa semua akan percuma saja"
"salah jika aku memperjuangkan cintaku?"
"kamu mencintai makhluk yang berbeda denganmu, jelas itu adalah sebuah kesalahan"
"tapi aku bahagia mencintainya. Dan akupun janji akan membahagiakannya"
"simpan keyakinanmu itu. Semoga Tuhan akan memperlihatkan keajaibannya"
Anak iblis kembali tertunduk, ucapan malaikat menciutkan hatinya. Nyalinya untuk mengungkapkan perasaan cintanya itu seketika padam. Batinnya cukup sadar diri bahwa kali ini ia mencintainya siapa.
"jangan memasang wajah memelas seperti itu. kemarikan titipanmu"
"berikan kertas ini kepadanya. kalau ia tak mau a saja"
"oke"..
Malaikat tersenyum, lantas mengepakkan sayap indahnya. Ia naik ke langit, meninggalkan anak iblis bersama kepekatan malam..
Anak iblis terdiam dibawah awan hitam. Sesekali ia memeluk tubuhnya sendiri, berharap angin yang menusuk kulit takkan membuatnya menggigil. Seketika ia terbayang wajah sendu malaikat cantik itu.. Makhluk sempurna yang tak sengaja ia lihat dibumi, yang saat itu tengah mengerjakan tugasnya masing-masing. Dan sekarang, ia telah sukses mencuri hati dan fikirannya. Bayangannya terus berputar-putar memainkan senyuman anggun malaikat kecintaannya. Namun apalah arti semuanya. Seberapa besarpun rasa cintanya terhadap malaikat cantik itu, alam takkan pernah mengijinkan mereka bersama.
***
"ada titipan surat untukmu, dari anak iblis". Malaikat menyodorkan selembar surat kepada malaikat cantik yang ada di depan matanya.Malaikat cantik tersenyum, terasa satu hal yang amat mendegupkan jantungnya. Entah itu perasaan apa, yang jelas begitu membahagiakannya.
"hey ingat, kau dan dia berbeda! tak mungkin bisa bersatu". Malaikat kembali terbang dan meninggalkan malaikat cantik sendirian. Malaikat cantik seakan tak memperdulikan kalimat terakhir yang diucapkan temannya itu. Hatinya masih terlalu bahagia menerima surat dari anak iblis.. Kemudian ia membuka surat itu, dengan seksama.. dengan hati yang berbunga..
Hay malaikat cantik, yang entah siapa namamu..Maaf jika kamu menganggap makhluk hina ini lancang karena telah menuliskan semuanya. Hanya saja, sejak awal perjumpaan kita dibumi, aku merasakan satu rasa yang bergejolak dalam dadaku, membombardir hatiku, dan seketika melumpuhkan gerakku saat harus menatap beningnya mata indahmu. Tolong jelaskan, apa ini cinta? apakah semua yang ku rasakan adalah rasa yang pantas aku rasakan? aku mencintaimu, makhluk terkutuk sepertiku yang atas ijin Tuhan dapat mencintai sosok sempurna sepertimu.
"aku ingin beristirahat, tinggalkan aku sendiri"
"tak usah marah seperti itu lah"
"aku tak marah, aku hanya benci dengan takdir seperti ini"
"sudah sudah, tak usah menyesali takdirmu, Tuhan kita yang lebih tau mana yang baik untuk makhluknya"
"tapi lihatlah aku malaikat! kotor, dan ditakdirkan untuk dimurkai oleh semua makhluk Tuhan"
"lantas kau mau apa?"
"entahlah"
Anak iblis tertunduk lemas. Ia begitu membenci dirinya sendiri. Ia amat menyesalkan takdir "bangsa"nya, yang dikutuk Tuhan untuk menjadi makhluk pendusta dan hina. Makhluk kekal penghuni neraka. Padahal pada sejujurnya, anak iblis menginginkan takdir lebih baik dibandingkan semua yang ia rasakan sekarang..
"sudahlah, semua tak akan mengubah keadaanmu. aku pamit, aku hendak naik ke langit"
"tunggu" anak iblis menghadang kepergian malaikat.
"apa lagi? aku malas jika harus mendengar keluhanmu"
"boleh ku titip sesuatu untuk temanmu?"
"hhm.. untuk apa? kurasa semua akan percuma saja"
"salah jika aku memperjuangkan cintaku?"
"kamu mencintai makhluk yang berbeda denganmu, jelas itu adalah sebuah kesalahan"
"tapi aku bahagia mencintainya. Dan akupun janji akan membahagiakannya"
"simpan keyakinanmu itu. Semoga Tuhan akan memperlihatkan keajaibannya"
Anak iblis kembali tertunduk, ucapan malaikat menciutkan hatinya. Nyalinya untuk mengungkapkan perasaan cintanya itu seketika padam. Batinnya cukup sadar diri bahwa kali ini ia mencintainya siapa.
"jangan memasang wajah memelas seperti itu. kemarikan titipanmu"
"berikan kertas ini kepadanya. kalau ia tak mau a saja"
"oke"..
Malaikat tersenyum, lantas mengepakkan sayap indahnya. Ia naik ke langit, meninggalkan anak iblis bersama kepekatan malam..
Anak iblis terdiam dibawah awan hitam. Sesekali ia memeluk tubuhnya sendiri, berharap angin yang menusuk kulit takkan membuatnya menggigil. Seketika ia terbayang wajah sendu malaikat cantik itu.. Makhluk sempurna yang tak sengaja ia lihat dibumi, yang saat itu tengah mengerjakan tugasnya masing-masing. Dan sekarang, ia telah sukses mencuri hati dan fikirannya. Bayangannya terus berputar-putar memainkan senyuman anggun malaikat kecintaannya. Namun apalah arti semuanya. Seberapa besarpun rasa cintanya terhadap malaikat cantik itu, alam takkan pernah mengijinkan mereka bersama.
***
"ada titipan surat untukmu, dari anak iblis". Malaikat menyodorkan selembar surat kepada malaikat cantik yang ada di depan matanya.Malaikat cantik tersenyum, terasa satu hal yang amat mendegupkan jantungnya. Entah itu perasaan apa, yang jelas begitu membahagiakannya.
"hey ingat, kau dan dia berbeda! tak mungkin bisa bersatu". Malaikat kembali terbang dan meninggalkan malaikat cantik sendirian. Malaikat cantik seakan tak memperdulikan kalimat terakhir yang diucapkan temannya itu. Hatinya masih terlalu bahagia menerima surat dari anak iblis.. Kemudian ia membuka surat itu, dengan seksama.. dengan hati yang berbunga..
Hay malaikat cantik, yang entah siapa namamu..Maaf jika kamu menganggap makhluk hina ini lancang karena telah menuliskan semuanya. Hanya saja, sejak awal perjumpaan kita dibumi, aku merasakan satu rasa yang bergejolak dalam dadaku, membombardir hatiku, dan seketika melumpuhkan gerakku saat harus menatap beningnya mata indahmu. Tolong jelaskan, apa ini cinta? apakah semua yang ku rasakan adalah rasa yang pantas aku rasakan? aku mencintaimu, makhluk terkutuk sepertiku yang atas ijin Tuhan dapat mencintai sosok sempurna sepertimu.
Ini bukan mauku malaikat cantik, Tuhan seakan telah menuliskan pada kitab agungnya bahwa aku ditakdirkan untuk mencintaimu. Layaknya diriku, telah ditakdirkan untuk menjadi makhluk keji yang durhaka pada Tuhan..
Sekali lagi, ini bukan mauku. Jika pada saat aku dilahirkan dapat memilih, pasti aku akan memilih untuk menjadi golonganmu, menjadi makhluk sempurna yang senantiasa bertasbih dan memuji keindahan nama Tuhan.
Nampaknya aku memang harus benar-benar tahu siapa diriku, aku tak pantas mencintaimu, aku tak layak jika menginginkanmu untuk bersanding denganku.
Kalau boleh aku meminta, aku tak ingin rasa istimewa ini hadir. Seandainya saja, pertemuan kita dibumi tak pernah terjadi, mungkin kamu tidak akan jijik kepadaku seperti saat ini. maaf, maafkan aku..
Namun sejujurnya, aku bahagia memiliki rasa ini. Walau pada kenyataannya rasa ini takkan pernah mungkin bisa kau balas.
Sudahlah, mungkin hanya keajaiban yang dapat membahagiaanku. Keajaiban yang entah kapan datangnya, dan mungkin keajaiban yang sangat mustahil bisa aku dapatkan.
Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca surat dari makhluk hina sepertiku..
Cantik, aku mencintaimu.. izinkan aku untuk tetap mengagumi kesempurnaanmu, walau ku tahu aku tak pernah layak untuk itu..
Malaikat cantik menitikan air matanya. Andai saja ia dapat menyatakan pada anak iblis, bahwa dirinyapun memiliki rasa yang sama. Tapi sayangnya, semua terasa mustahil, semua terasa tidak mungkin. Mereka adalah dua makhluk yang jelas-jelas berbeda dan tidak akan pernah menyatu walau berlandaskan cinta.
Keduanya hanya bisa menyimpan rasanya masing-masing tanpa bisa menyatukannya. Semua jelas lebih baik dibandingkan harus menentang larangan Tuhan.
Biarkan perjumpaan mereka dibumi melahirkan cinta yang diam-diam saja.. Tanpa harus ada yang tahu, tanpa harus ada yang menentang.. Semua memang telah dituliskan Tuhan, namun tugas merekalah untuk membedakan mana yang baik untuk kebaikan semuanya..
"akupun mencintaimu anak iblis, namun maaf.. tidak bisa.. kamupun tahu apa alasannya"
Sekali lagi, ini bukan mauku. Jika pada saat aku dilahirkan dapat memilih, pasti aku akan memilih untuk menjadi golonganmu, menjadi makhluk sempurna yang senantiasa bertasbih dan memuji keindahan nama Tuhan.
Nampaknya aku memang harus benar-benar tahu siapa diriku, aku tak pantas mencintaimu, aku tak layak jika menginginkanmu untuk bersanding denganku.
Kalau boleh aku meminta, aku tak ingin rasa istimewa ini hadir. Seandainya saja, pertemuan kita dibumi tak pernah terjadi, mungkin kamu tidak akan jijik kepadaku seperti saat ini. maaf, maafkan aku..
Namun sejujurnya, aku bahagia memiliki rasa ini. Walau pada kenyataannya rasa ini takkan pernah mungkin bisa kau balas.
Sudahlah, mungkin hanya keajaiban yang dapat membahagiaanku. Keajaiban yang entah kapan datangnya, dan mungkin keajaiban yang sangat mustahil bisa aku dapatkan.
Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca surat dari makhluk hina sepertiku..
Cantik, aku mencintaimu.. izinkan aku untuk tetap mengagumi kesempurnaanmu, walau ku tahu aku tak pernah layak untuk itu..
Malaikat cantik menitikan air matanya. Andai saja ia dapat menyatakan pada anak iblis, bahwa dirinyapun memiliki rasa yang sama. Tapi sayangnya, semua terasa mustahil, semua terasa tidak mungkin. Mereka adalah dua makhluk yang jelas-jelas berbeda dan tidak akan pernah menyatu walau berlandaskan cinta.
Keduanya hanya bisa menyimpan rasanya masing-masing tanpa bisa menyatukannya. Semua jelas lebih baik dibandingkan harus menentang larangan Tuhan.
Biarkan perjumpaan mereka dibumi melahirkan cinta yang diam-diam saja.. Tanpa harus ada yang tahu, tanpa harus ada yang menentang.. Semua memang telah dituliskan Tuhan, namun tugas merekalah untuk membedakan mana yang baik untuk kebaikan semuanya..
"akupun mencintaimu anak iblis, namun maaf.. tidak bisa.. kamupun tahu apa alasannya"
0 Komentar