(Ini juga tulisan lama setahun lalu, request dari temen buat 'seseorangnya' hahaha. Rada lebay nih, tapi biarin lah. Org mintanya yg beginian. Haha. Dan selamat membaca juga buat yang mau baca :p)
Sedikit terisak ketika petikan pena ini mulai memenuhi kertas yang tengah kamu baca sekarang. Bercampur kerinduan, air mata tertahan, dan beberapa kisah manis yang tidak pernah bisa aku jelaskan. Aku mencoba membahasakan beberapa kata yang ingin ku ungkapkan, sejak dulu, kepadamu.. dan inilah saatnya.
Maaf, jika kamu anggap aku lancang. Hati dan jemariku berkorelasi untuk memecah segala bungkam yang tertahan. Gemuruh rasa ini nyatanya sudah tak bisa kusimpan sendirian. Aku "masih" sangat mengagumimu, menyukai semua tindak-tanduk hidupmu. Kamu masih hadir, kamu masih ada, dan menempati satu labirin utuh dihatiku. Tempat istimewa, yang orang lain (mungkin) tak akan pernah bisa menempatinya.
Entah siapa aku dan seperti apa aku untuk hidupmu, tapi yang jelas kamu adalah semesta bagiku. Kamu yang telah berhasil mengajariku berbagai macam makna, salah satunya makna sebuah kehilangan, tapi tetap berusaha bertahan, dalam sebuah kesimpang siuran.
Sebuah kejelasan memang tak pernah aku dapatkan dalam relasi kita. Namun yang aku tahu, komitmen kita adalah saling membahagiakan. Cukup, hanya itu. Dan nyatanya aku memang benar-benar bahagia, bersamamu. Walau itu dulu, walau itu hanya masalalu.
Sampai saat inipun aku tak pernah tahu, mengapa waktu dan keadaan tega mengakhiri kebersamaan kita. Kebersamaan yang entah apa namanya, dan pada akhirnya harus diakhiri seperti saat ini. Ya, kau dan aku dalam relasi ini tak lagi menjadi kita yang dulu. Entah karena hadirnya dia dihidupku, atau alasan rancu lainnya yang tak mampu dibahasakan logikaku..
Saat cinta baru itu datang menyapaku, sosokmu tetap menjadi bayang-bayang yang tak pernah lepas dari kerasnya ingatanku. Kamu masih istimewa, kamu masih jadi semesta, walau harus ku munafikkan separuhnya, karena adanya dia..
Dan kini kamu kembali?
Untuk apa lagi? membawa ketidakjelasan yang membahagiakanku? atau kembali membuatku merasakan kerancuan yang tak berakhiran?
Ah.. sudahlah! kaupun telah menemukannya, menemukan sebelah hatimu, dan itu bukanlah aku.
Jaga dirinya! dengan begitu kau akan menjaga bahagiamu. Biar ku nikmati bekas-bekas kebersamaan kita yang dulu, sendirian. Biarkan aku merasakan kerinduan, pengharapan, dan rasa yang tidak tertahankan. Aku takkan bisa lagi menjangkaumu layaknya dulu, tapi harus kau tahu, doa untukmu adalah penjagaan dengan caraku.
Selamat ulang tahun, cinta yang belum sempat aku genapkan. Tetaplah jadi sumber bahagia tersembunyiku , tetaplah jadi sosok yang selalu melukis pelangi dalam lembar hidupku walau dengan cara yang tak terdefinisikan.
Dalam jemari yang membeku, dengan isak tangis yang mengharu biru, aku hanya ingin membahasakan rasaku padamu. Tak lagi dengan diam, tak lagi dari jarak kejauhan.. kau (adalah) semesta yang lalu, dan entah sampai kapan akan tetap memberikan rasa yang baru..
--with love--
Maaf, jika kamu anggap aku lancang. Hati dan jemariku berkorelasi untuk memecah segala bungkam yang tertahan. Gemuruh rasa ini nyatanya sudah tak bisa kusimpan sendirian. Aku "masih" sangat mengagumimu, menyukai semua tindak-tanduk hidupmu. Kamu masih hadir, kamu masih ada, dan menempati satu labirin utuh dihatiku. Tempat istimewa, yang orang lain (mungkin) tak akan pernah bisa menempatinya.
Entah siapa aku dan seperti apa aku untuk hidupmu, tapi yang jelas kamu adalah semesta bagiku. Kamu yang telah berhasil mengajariku berbagai macam makna, salah satunya makna sebuah kehilangan, tapi tetap berusaha bertahan, dalam sebuah kesimpang siuran.
Sebuah kejelasan memang tak pernah aku dapatkan dalam relasi kita. Namun yang aku tahu, komitmen kita adalah saling membahagiakan. Cukup, hanya itu. Dan nyatanya aku memang benar-benar bahagia, bersamamu. Walau itu dulu, walau itu hanya masalalu.
Sampai saat inipun aku tak pernah tahu, mengapa waktu dan keadaan tega mengakhiri kebersamaan kita. Kebersamaan yang entah apa namanya, dan pada akhirnya harus diakhiri seperti saat ini. Ya, kau dan aku dalam relasi ini tak lagi menjadi kita yang dulu. Entah karena hadirnya dia dihidupku, atau alasan rancu lainnya yang tak mampu dibahasakan logikaku..
Saat cinta baru itu datang menyapaku, sosokmu tetap menjadi bayang-bayang yang tak pernah lepas dari kerasnya ingatanku. Kamu masih istimewa, kamu masih jadi semesta, walau harus ku munafikkan separuhnya, karena adanya dia..
Dan kini kamu kembali?
Untuk apa lagi? membawa ketidakjelasan yang membahagiakanku? atau kembali membuatku merasakan kerancuan yang tak berakhiran?
Ah.. sudahlah! kaupun telah menemukannya, menemukan sebelah hatimu, dan itu bukanlah aku.
Jaga dirinya! dengan begitu kau akan menjaga bahagiamu. Biar ku nikmati bekas-bekas kebersamaan kita yang dulu, sendirian. Biarkan aku merasakan kerinduan, pengharapan, dan rasa yang tidak tertahankan. Aku takkan bisa lagi menjangkaumu layaknya dulu, tapi harus kau tahu, doa untukmu adalah penjagaan dengan caraku.
Selamat ulang tahun, cinta yang belum sempat aku genapkan. Tetaplah jadi sumber bahagia tersembunyiku , tetaplah jadi sosok yang selalu melukis pelangi dalam lembar hidupku walau dengan cara yang tak terdefinisikan.
Dalam jemari yang membeku, dengan isak tangis yang mengharu biru, aku hanya ingin membahasakan rasaku padamu. Tak lagi dengan diam, tak lagi dari jarak kejauhan.. kau (adalah) semesta yang lalu, dan entah sampai kapan akan tetap memberikan rasa yang baru..
--with love--
0 Komentar